Abad ke lima
Bogor ditilik dari sejarahnya adalah tempat berdirinya Kerajaan Hindu Tarumanagara di abad ke lima. Beberapa kerajaan lainnya lalu memilih untuk bermukim di tempat yang sama dikarenakan daerah pegunungannya yang secara alamiah membuat lokasi ini mudah untuk bertahan terhadap ancaman serangan, dan di saat yang sama adalah daerah yang subur serta memiliki akses yang mudah pada sentra-sentra perdagangan saat itu. Namun hingga kini, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh beberapa arkeolog ternama seperti Prof. Uka Tjandrasasmita, keberadaan tempat dan situs penting yang menyatakan eksistensi kerajaan tersebut, hingga kini masih belum ditemukan bukti autentiknya.Kerajaan Pajajaran
Di antara prasasti-prasasti yang ditemukan di Bogor tentang kerajaan-kerajaan yang silam, salah satu prasasti tahun 1533, menceritakan kekuasaan Raja Prabu Surawisesa dari Kerajaan Pajajaran. Prasasti ini dipercayai memiliki kekuatan gaib dan keramat, sehingga dilestarikan sampai sekarang. Kerajaan Padjajaran memiliki pengaruh kekuasaan hanya seluas Jawa Barat dan Banten.Pakuan yang merupakan ibu kota pemerintahan Kerajaan Pajajaran diyakini terletak di Kota Bogor, dan menjadi pusat pemerintahan Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja Ratu Haji I Pakuan Pajajaran) yang dinobatkan pada 3 Juni 1482. Hari penobatannya ini diresmikan sebagai hari jadi Bogor pada tahun 1973 oleh DPRD Kabupaten dan Kota Bogor, dan diperingati setiap tahunnya hingga saat ini.[2]
Zaman Kolonial Belanda
Setelah penyerbuan tentara Banten, catatan mengenai Kota Pakuan hilang, dan baru ditemukan kembali oleh ekspedisi Belanda yang dipimpin oleh Scipio dan Riebeck pada tahun 1687. Mereka melakukan penelitian atas Prasasti Batutulis dan beberapa situs lainnya, dan menyimpulkan bahwa pusat pemerintahan Kerajaan Pajajaran terletak di Kota Bogor.Pada tahun 1745, Gubernur Jenderal Gustaaf Willem baron van Imhoff membangun Istana Bogor seiring dengan pembangunan Jalan Raya Daendels yang menghubungkan Batavia dengan Bogor. Bogor direncanakan sebagai sebagai daerah pertanian dan tempat peristirahatan bagi Gubernur Jenderal. Dengan pembangunan-pembangunan ini, wilayah Bogor pun mulai berkembang.
Setahun kemudian, van Imhoff menggabungkan sembilan distrik (Cisarua, Pondok Gede, Ciawi, Ciomas, Cijeruk, Sindang Barang, Balubur, Dramaga, dan Kampung Baru) ke dalam satu pemerintahan yang disebut Regentschap Kampung Baru Buitenzorg. Di kawasan itu van Imhoff kemudian membangun sebuah Istana Gubernur Jenderal. Dalam perkembangan berikutnya, nama Buitenzorg dipakai untuk menunjuk wilayah Puncak, Telaga Warna, Megamendung, Ciliwung, Muara Cihideung, hingga puncak Gunung Salak, dan puncak Gunung Gede.
Kebun Raya Bogor
Kebun Raya Bogor pada mulanya merupakan bagian dari 'samida' (hutan buatan atau taman buatan) yang paling tidak telah ada pada pemerintahan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi, 1474-1513) dari Kerajaan Sunda, sebagaimana tertulis dalam prasasti Batutulis. Hutan buatan itu ditujukan untuk keperluan menjaga kelestarian lingkungan sebagai tempat memelihara benih benih kayu yang langka. Di samping samida itu dibuat pula samida yang serupa di perbatasan Cianjur dengan Bogor (Hutan Ciung Wanara). Hutan ini kemudian dibiarkan setelah Kerajaan Sunda takluk dari Kesultanan Banten, hingga Gubernur Jenderal van der Capellen membangun rumah peristirahatan di salah satu sudutnya pada pertengahan abad ke-18.
Pada awal 1800-an Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles, yang mendiami Istana Bogor
dan memiliki minat besar dalam botani, tertarik mengembangkan halaman Istana
Bogor menjadi sebuah kebun yang cantik. Dengan bantuan para ahli botani, W. Kent, yang ikut
membangun Kew Garden
di London,
Raffles menyulap halaman istana menjadi taman bergaya Inggris klasik. Inilah
awal mula Kebun Raya Bogor dalam bentuknya sekarang.
Monumen Olivia Raffles
Pada tahun 1814 Olivia Raffles (istri
dari Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles) meninggal dunia
karena sakit dan dimakamkan di Batavia. Sebagai pengabadian, monumen untuknya didirikan di
Kebun Raya Bogor.
Ide pendirian Kebun Raya bermula
dari seorang ahli biologi yaitu Abner yang menulis surat
kepada Gubernur Jenderal G.A.G.Ph. van der Capellen. Dalam surat
itu terungkap keinginannya untuk meminta sebidang tanah yang akan dijadikan
kebun tumbuhan yang berguna, tempat pendidikan guru, dan koleksi tumbuhan bagi
pengembangan kebun-kebun yang lain.
Prof. Caspar Georg Karl Reinwardt adalah
seseorang berkebangsaan Jerman yang berpindah ke Belanda dan menjadi ilmuwan botani
dan kimia. Ia lalu diangkat menjadi menteri bidang pertanian, seni, dan ilmu
pengetahuan di Jawa
dan sekitarnya. Ia tertarik menyelidiki berbagai tanaman yang digunakan untuk
pengobatan. Ia memutuskan untuk mengumpulkan semua tanaman ini di sebuah kebun
botani di Kota Bogor,
yang saat itu disebut Buitenzorg (dari bahasa
Belanda yang berarti "tidak perlu khawatir"). Reinwardt
juga menjadi perintis di bidang pembuatan herbarium. Ia kemudian dikenal
sebagai seorang pendiri Herbarium Bogoriense.
Pada tahun 18 Mei
1817, Gubernur Jenderal Godert Alexander Gerard
Philip van der Capellen secara resmi mendirikan Kebun Raya Bogor
dengan nama ’s Lands Plantentuin te Buitenzorg. Pendiriannya diawali
dengan menancapkan ayunan cangkul pertama di bumi Pajajaran
sebagai pertanda dibangunnya pembangunan kebun itu, yang pelaksanaannya
dipimpin oleh Reinwardt sendiri, dibantu oleh James Hooper dan W. Kent
(dari Kebun Botani Kew yang terkenal di Richmond,
Inggris).
Sekitar 47 hektare tanah di sekitar Istana Bogor
dan bekas samida dijadikan lahan pertama untuk kebun botani. Reinwardt menjadi
pengarah pertamanya dari 1817 sampai 1822. Kesempatan ini digunakannya untuk mengumpulkan tanaman
dan benih dari bagian lain Nusantara. Dengan segera Bogor menjadi pusat pengembangan pertanian
dan hortikultura
di Indonesia. Pada masa itu diperkirakan sekitar 900 tanaman hidup ditanam di
kebun tersebut.
Pada tahun 1822 Reinwardt kembali ke
Belanda dan digantikan oleh Dr. Carl Ludwig
Blume yang melakukan inventarisasi tanaman koleksi yang tumbuh di
kebun. Ia juga menyusun katalog kebun yang pertama berhasil dicatat sebanyak
912 jenis (spesies)
tanaman. Pelaksanaan pembangunan kebun ini pernah terhenti karena kekurangan
dana tetapi kemudian dirintis lagi oleh Johannes Elias Teysmann (1831), seorang
ahli kebun istana Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch. Dengan dibantu
oleh Justus Karl Hasskarl, ia melakukan
pengaturan penanaman tanaman koleksi dengan mengelompokkan menurut suku
(familia).
Teysmann kemudian digantikan oleh
Dr. Rudolph Herman Christiaan Carel
Scheffer pada tahun 1867 menjadi direktur, dan dilanjutkan kemudian oleh Prof. Dr.
Melchior
Treub.
Pendirian Kebun Raya Bogor bisa
dikatakan mengawali perkembangan ilmu
pengetahuan di Indonesia. Dari sini lahir beberapa institusi ilmu pengetahuan
lain, seperti Bibliotheca
Bogoriensis (1842),
Herbarium Bogoriense (1844), Kebun Raya Cibodas (1860), Laboratorium Treub (1884), dan Museum dan
Laboratorium Zoologi (1894).
Pada tanggal 30 Mei
1868 Kebun Raya Bogor
secara resmi terpisah pengurusannya dengan halaman Istana Bogor.
Pada mulanya kebun ini hanya akan
digunakan sebagai kebun percobaan bagi tanaman perkebunan yang akan
diperkenalkan ke Hindia-Belanda (kini Indonesia).
Namun pada perkembangannya juga digunakan sebagai wadah penelitian ilmuwan pada
zaman itu (1880
- 1905).
Kebun Raya Bogor selalu mengalami
perkembangan yang berarti di bawah kepemimpinan Dr. Carl Ludwig
Blume (1822), JE. Teijsmann dan Dr. Hasskarl (zaman Gubernur Jenderal Van den
Bosch), J. E. Teijsmann dan Simon Binnendijk, Dr.
R.H.C.C. Scheffer (1867), Prof. Dr. Melchior
Treub (1881), Dr. Jacob Christiaan Koningsberger
(1904), Van den Hornett (1904),
dan Prof. Ir. Koestono Setijowirjo
(1949), yang merupakan orang Indonesia pertama yang menjabat suatu pimpin
lembaga penelitian yang bertaraf internasional.
Pada saat kepemimpinan tokoh-tokoh
itu telah dilakukan kegiatan pembuatan katalog mengenai Kebun Raya Bogor, pencatatan
lengkap tentang koleksi
tumbuh-tumbuhan Cryptogamae, 25 spesies
Gymnospermae,
51 spesies Monocotyledonae dan 2200
spesies Dicotyledonae, usaha
pengenalan tanaman ekonomi penting di Indonesia, pengumpulan tanam-tanaman yang
berguna bagi Indonesia (43 jenis, di antaranya vanili, kelapa sawit,
kina, getah perca,
tebu, ubi kayu,
jagung
dari Amerika,
kayu besi dari Palembang
dan Kalimantan),
dan mengembangkan kelembagaan internal di Kebun Raya yaitu:
- Herbarium
- Museum
- Laboratorium Botani
- Kebun Percobaan
- Laboratorium Kimia
- Laboratorium Farmasi
- Cabang Kebun Raya di Sibolangit, Deli Serdang dan di Purwodadi, Kabupaten Pasuruan
- Perpustakaan Fotografi dan Tata Usaha
- Pendirian Kantor Perikanan dan Akademi Biologi (cikal bakal IPB).
Kebun Raya Bogor sepanjang perjalanan
sejarahnya mempunyai berbagai nama dan julukan, seperti
- ’s Lands Plantentuin
- Syokubutzuer (zaman Pendudukan Jepang)
- Botanical Garden of Buitenzorg
- Botanical Garden of Indonesia
- Kebun Gede
- Kebun Jodoh
Hindia Belanda
Setelah pemerintahan kembali kepada pemerintah Belanda pada tahun 1903, terbit Undang-Undang Desentralisasi yang menggantikan sistem pemerintahan tradisional dengan sistem administrasi pemerintahan modern, yang menghasilkan Gemeente Buitenzorg.Pada tahun 1925, dibentuk provinsi Jawa Barat (provincie West Java) yang terdiri dari 5 karesidenan, 18 kabupaten, dan kotapraja (stadsgemeente). Buitenzorg menjadi salah satu stadsgemeente.
Zaman Jepang
Pada masa pendudukan Jepang pada tahun 1942, pemerintahan Kota Bogor menjadi lemah setelah pemerintahan dipusatkan pada tingkat karesidenan.Masa kemerdekaan
Pada tahun 1950, Buitenzorg menjadi Kota Besar Bogor yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 16 tahun 1950.Pada tahun 1957, nama pemerintahan diubah menjadi Kota Praja Bogor, sesuai Undang-Undang nomor 1 tahun 1957.
Kota Praja Bogor berubah menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Bogor, dengan Undang-Undang nomor 18 tahun 1965 dan Undang-Undang nomor 5 tahun 1974.
Kotamadya Bogor berubah menjadi Kota Bogor pada tahun 1999 dengan berlakunya Undang-Undang nomor 22 tahun 1999.



0 komentar:
Posting Komentar